Ternyata, apa yang -sempat- dulu kita takutkan, malah semakin mendekat.
Kita, yang sejak dahulu memperjuangkan ini, sepertinya sudah mulai lupa.
Tidak perlu ada yang disalahkan, tidak.
Ini hanya konsekuensi dari lemahnya diri kita.
Maafkan aku, Hujan.
Nampaknya aku hanya manusia egois, dan kau juga.
Kita sama-sama egois.
Berpikiran sempit, dan tak mau bergerak.
Dan ternyata, kita terus berekspektasi, tapi kita hanya diam.
Kita yang terus berekspektasi untuk memperbaiki diri, ternyata hanya angan belaka.
Kita yang dulu saling mengingatkan, kini saling melupakan.
Akan terulang lagi? Mungkin, iya.
Namun
Aku akan terus berusaha.
Dan kau harus percaya.
Kau harus percaya pada dirimu, Hujan.
Kau harus tahu, ternyata bagaimanapun, aku tetap mencintaimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar