Hi juga!
Kabarku baik, alhamdulillaah.
Emm, iya, semoga jarangnya kita bertemu bukan jadi penghalang kita, ya, Hujan.
Aku juga ingin menceritakanmu pada dunia, boleh kan?
Baiklah, begini cerita Hujan.
Aku tiru bahasa dia, gak apa-apa, kan?
Hujan, adalah teman lamaku dari perbatasan langit,
yang kadang bertingkah menjadi rintikan air ketika senang
dan kadang berubah menjadi deras ketika sangat senang
kadang juga dia mengurungkan diri menjadi mendung ketika dia kesal
He he, gambaran tentang dia sangat menarik, ya?
Benar apa yang telah dikatakannya,
bahwa memang Hujan dan Senja sudah lama saling menemani.
Kalau aku harus sebutkan semua yang terjadi di langit, sangat banyak!
Dan aku juga tidak pernah menyesal telah mengenalnya.
Dan aku pun punya pendapat tentang Hujan,
si gadis kecil yang sangat senang bila turun hujan,
yang menganggap dirinya adalah hujan,
dia adalah hujan, hujan adalah dirinya!
yang bisa bersikap dewasa ketika Senja keluar dari jalurnya
yang bersikap kekanak-kanakan ketika mendung dikala senja
Emm, memang lucu jika harus diingat-ingat, Hujan.
Kita memang semakin sadar bahwa kita bukanlah Hujan dan Senja yang dahulu lagi.
Walau tetap, suasana dahulu memang sulit kita nafikan.
Dan, aku tetap ingat bahwa 2 tahun yang lalu aku menemukan rumahku kembali.
Rumah adalah tempat kembali.
Aku semakin tersadar, bahwa Hujan, bukanlah sekedar hujan.
Dia adalah rumah,
tak peduli kemanapun aku pergi,
tak peduli kemanapun kamu pergi,
tetap saja, rumah adalah tempat terbaik untuk kembali.
Jadi, boleh kan aku permanenkan rumahku?
Dan, komitmen kita, untuk terus bersama selamanya, semoga berjalan sebagaimana semestinya.
Juga, Hujan, semoga ceritanya bisa terus aku tulis, baik yang dulu, sekarang, dan ratusan tahun mendatang.
Bismillaah.. Insyaa Allah itu terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar